Tuesday, 29 October 2013

Seringkali aku berkata ketika orang memuji milikku Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan Mobilku hanya titipannya Rumahku hanya titipannya Bahwa hartaku hanya titipannya Bahwa putraku hanya titipannya Tapi mengapa aku tak pernah bertanya Mengapa Dia menitipkan padaku Untuk apa Dia menitipkan ini padaku Dan Kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Mu Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka Kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita Ketika aku berdo'a, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku Aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas Dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan Seolah semua derita adalah hukuman bagiku Seolah keadilan dan kasih-Nya hanya berjalan seperti matematika Aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku Dan ni'mat dunia kerap menghampiriku Kuperlakukan Dia seolah Mitra dagang dan bukan Kekasih Kuminta Dia membalas perlakuan baikku, dan menolak keputusannya yang tak sesuai keinginanku Gusti...padahal tiap hari kuucapkan hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah Ketika langit dan bumi bersatu Bencana dan keberuntungan sama saja

No comments:

Post a Comment